Dominasi Spanyol dan Italia di MotoGP telah menjadi fenomena yang berlangsung selama puluhan tahun, namun kini pemilik baru kompetisi ini, Liberty Media, mulai menyiapkan langkah radikal untuk mengubah peta persaingan tersebut. Jika Anda sering memperhatikan barisan starting grid, Anda pasti menyadari bahwa sebagian besar pembalap yang berlaga di kelas Moto3, Moto2, hingga kelas utama berasal dari dua negara tersebut. Bagi penggemar lama, hal ini mungkin terasa biasa, namun bagi Liberty Media yang berorientasi pada pasar global, situasi ini dianggap sebagai hambatan bisnis.
Sebagai pemegang hak komersial yang sukses mentransformasi Formula 1, Liberty Media ingin MotoGP lebih beragam secara nasionalitas. Mereka tidak ingin ajang balap motor paling bergengsi di dunia ini hanya terlihat seperti “Kejuaraan Nasional Spanyol vs Italia” yang diselenggarakan di berbagai belahan dunia. Oleh karena itu, skema insentif baru sedang disiapkan untuk memecah hegemoni dua negara penguasa tersebut.
Fakta Mengejutkan di Balik Dominasi Grid Saat Ini
Data tidak bisa berbohong. Dari total 22 pembalap yang mengisi grid MotoGP saat ini, sebanyak 15 di antaranya berasal dari Spanyol dan Italia. Secara persentase, hampir 70 persen komposisi pembalap hanya diwakili oleh dua negara. Sementara itu, negara-negara dengan basis penggemar besar seperti Amerika Serikat, Jepang, hingga negara-negara di Asia Tenggara justru minim keterwakilan.
Situasi dominasi Spanyol dan Italia di MotoGP ini menciptakan tantangan bagi penyelenggara untuk menggaet sponsor global. Perusahaan internasional tentu akan lebih tertarik mengucurkan dana besar jika ada pembalap dari negara asal mereka yang bertarung di barisan depan. Inilah alasan utama mengapa Liberty Media mulai merasa perlu melakukan intervensi terhadap komposisi pembalap.

Skema Insentif 200 Ribu Euro: Strategi atau Ancaman?
Untuk mengatasi masalah ini, Liberty Media berencana memberikan insentif finansial yang signifikan mulai periode 2026 hingga 2028. Melansir laporan dari Rideapart, tim-tim MotoGP yang bersedia merekrut pembalap di luar kriteria negara dominan berpotensi mendapatkan bonus hingga 200.000 euro.
Syarat yang ditetapkan cukup spesifik. Tim akan mendapatkan bonus jika mempekerjakan pembalap dari negara yang memenuhi kriteria berikut:
- Memiliki jumlah penduduk di atas 100.000 jiwa.
- Memiliki keterwakilan di bawah 10 persen di area paddock.
Secara praktis, kriteria ini disusun sedemikian rupa sehingga hanya pembalap asal Spanyol dan Italia yang tidak masuk dalam daftar penerima subsidi. Kebijakan ini memicu perdebatan panas mengenai apakah faktor kewarganegaraan kini mulai menggeser nilai prestasi murni.
Kritik Atas Matinya Sistem Meritokrasi
Sejarah panjang MotoGP dibangun di atas fondasi meritokrasi. Artinya, pembalap tercepatlah yang berhak mendapatkan tempat, tanpa memandang warna paspor mereka. Kritik pun bermunculan karena kebijakan baru ini dianggap bisa menurunkan standar kualitas kompetisi.
Banyak analis khawatir bahwa tim-tim satelit atau independen mungkin akan tergiur dengan bonus 200 ribu euro dan memilih pembalap yang secara catatan waktu lebih lambat, asalkan berasal dari negara “strategis” seperti Amerika Serikat atau Inggris. Jika hal ini terjadi, esensi MotoGP sebagai puncak dari keterampilan balap motor dunia terancam pudar hanya demi kepentingan konten dan branding.
Mengapa Spanyol dan Italia Begitu Kuat?
Penting untuk memahami bahwa kuatnya dominasi Spanyol dan Italia di MotoGP bukan terjadi secara kebetulan atau karena faktor keberuntungan. Kedua negara ini memiliki ekosistem pembinaan balap yang sangat matang sejak usia dini.
Di Spanyol dan Italia, seorang anak bisa memulai karier balap profesional sejak usia 4 atau 5 tahun melalui kejuaraan nasional yang terorganisir dengan sangat rapi. Mereka memiliki sirkuit standar internasional yang tersebar di mana-mana dan sekolah balap berkualitas tinggi (seperti VR46 Academy milik Valentino Rossi).
Negara-negara lain sering kali tertinggal karena baru mulai serius membangun infrastruktur balap dalam satu atau dua dekade terakhir. Memaksa diversitas melalui aturan finansial dianggap seperti memberikan obat instan untuk penyakit kronis yang seharusnya disembuhkan melalui perbaikan sistem pembinaan jangka panjang.
Menuju Era Liberty Media: MotoGP Rasa Hollywood?
Langkah Liberty Media ini mengindikasikan bahwa MotoGP akan dikelola dengan pendekatan yang lebih komersial, mirip dengan kesuksesan serial Drive to Survive di F1. Kehadiran pembalap dari berbagai negara diharapkan mampu membuka pintu pasar baru, meningkatkan angka penonton di platform streaming, dan menarik lebih banyak sponsor raksasa.
Bagi fans di Indonesia, kebijakan ini bisa menjadi peluang sekaligus tantangan. Peluang karena tim-tim akan lebih terbuka merekrut talenta dari Asia demi mendapatkan insentif, namun tetap menjadi tantangan karena pembalap kita harus mampu membuktikan bahwa mereka bisa mengimbangi kecepatan para pembalap Spanyol dan Italia yang sudah terasah sejak kecil.






